Blogger

Saturday 26 November 2016

Leader

YOU ARE A LEADER Suatu ketika terjadilah kebakaran di suatu rumah. Di rumah itu ada seseorang yang tidur dengan sangat nyenyak. Seorang lelaki mencoba membawanya keluar melalui jendela. Tidak dapat. Melalui pintu. Tidak dapat. Ia terlalu besar dan berat. Lelaki ini sudah hampir putus asa. Ketika ada seseorang yang memberinya saran, "Bangunkan dia, lalu ia dapat keluar sendiri." Cerita sederhana ini memberikan satu pelajaran penting bagi kita. Setiap orang sebenarnya adalah pemimpin. Setiap orang dapat mengatur dirinya sendiri. Sayangnya, banyak orang tak sadar. Mereka sedang tertidur, mungkin sepanjang hidupnya. Karena itu tugas kita adalah "membangunkan" mereka. Untuk membangunkan mereka sebetulnya tidaklah sulit. Anda hanya memperkenalkan satu kata kunci, yaitu "choice" yang berarti "pilihan". Siapapun Anda, begitu Anda sadar bahwa anda mempunyai pilihan, seketika itu juga Anda akan memegang kendali hidup Anda. Anda akan langsung berubah dari objek menjadi subjek, dari seorang korban menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi sadar ada tiga hal yang perlu Anda lakukan, yaitu Self Understanding, Self Awareness dan Self Control. Mari kita mulai dari yang pertama, yaitu Self Understanding. Ini adalah memahami diri Anda sendiri. Untuk menjadi pemimpin Anda harus sadar siapakah Anda sebenarnya. Ini seperti yang dikatakan Sokrates, "Kenalilah dirimu". Nabi Muhammad S.A.W dalam sebuah haditsnya mengatakan, "Siapa yang mengenali dirinya akan mengenali Tuhannya". Mengenali diri sendiri adalah dasar dari Kecerdasan Spiritual (SQ). Untuk itu kita perlu memikirkan pertanyaan-pertanyaan mendasar: Siapakah kita? Untuk apa kita hidup? Dari mana kita berasal? dan Ke mana kita akan pergi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu kita jawab agar kita dapat menghayati kehidupan yang lebih bermakna. Tanpa mengenali diri kita dengan benar, sulit untuk menemukan makna kehidupan. Kehidupan yang sangat maju dalam dimensi fisik justru sering menimbulkan kekosongan jiwa. Di negara-negara maju seperti Jepang, Denmark, Swedia, dan Norwegia banyak terjadi kasus bunuh diri. Tiadanya makna hidup membuat orang menjadi sangat rentan terhadap penderitaan. Menurut saya, hidup bukanlah sebuah perjalanan menanjak atau meningkat. Hidup adalah sebuah perjalanan melingkar. Kita memulai perjalanan tersebut dari satu titik dan suatu ketika tanpa disadari kita akan tiba kembali di titik semula. Setiap orang mempunyai lingkaran yang berbeda-beda besarnya sesuai dengan usia hidupnya. Dalam bahasa agama dikatakan, "Sesungguhnya semua berasal dari Tuhan dan semua akan kembali kepada Tuhan". Hidup dengan demikian adalah sebuah perjalanan untuk kembali. Kembali kepada asal usul sebenarnya merupakan rahasia terbesar kehidupan kita. Inilah bagian dari fitrah kita sebagai manusia. Manusia memang senantiasa memiliki kerinduan akan asal usulnya. Pencarian manusia kepada Sang Pencipta merupakan bentuk kerinduannya ini. Dalam level yang lebih rendah, fenomena ini terlihat pada kecenderungan orang mudik di saat lebaran. Kenapa orang mau bersusah-susah, bersempit-sempit untuk pulang mudik. Inilah sebenarnya adalah manifestasi kerinduan manusia akan asal usulnya. Pemahaman ini juga akan melahirkan kesadaran bahwa hidup adalah sementara. Ini akan melahirkan sikap sederhana, tidak ngoyo, dan tidak serakah. Ada cerita menarik mengenai seorang turis Amerika yang mengunjungi seorang rabbi termasyhur di Polandia yang bernama Hofetz Chaim. Ia terheran-heran ketika melihat rumah Chaim yang hanya berupa sebuah ruang sederhana penuh dengan buku-buku. Perabot lainnya hanya meja dan bangku saja. "Rabbi, di manakah perabot rumah Anda yang lain?" tanya turis itu. "Di mana kepunyaanmu?" Sang Rabbi balik bertanya "Kepunyaanku? Bukankah aku hanya tamu di sini? Aku hanya sekedar mampir saja" jawab orang Amerika itu. Mendengar hal itu Chaim langsung menjawab, "Begitu juga aku". Langkah kedua adalah kesadaran diri (Self Awarness). Hal ini berarti sadar akan perasaan Anda sendiri. Untuk menjadi pemimpin Anda harus memiliki Emotional Literacy. Anda harus "melek emosi". Anda harus mengenali dan mengindentifikasi perasaan apa pun yang sedang Anda rasakan. Ini adalah dasar dari Kecerdasan Emosi (EQ). Untuk mengenali perasaan yang terdalam, kita perlu senantiasa memisahkan diri kita dengan emosi yang kita rasakan. Kita bukanlah emosi-emosi kita. Kita adalah kita. Kita tidak berubah, sebaliknya emosi berubah setiap saat. Kita laksana langit, sementara emosi adalah awan yang datang silih berganti. Pemahaman semacam ini menyadarkan kita bahwa kita sebenarnya lebih kuat daripada emosi kita. Kita dapat mengatur emosi kita sesuai dengan kemauan kita. Kitalah yang mengatur emosi kita, bukannya sebaliknya. Kesadaran diri dengan demikian mengatakan bahwa kitalah yang bertanggung jawab terhadap perasaan kita sendiri. Langkah ketiga adalah penguasaan diri (Self Control). Ini berarti sadar sepenuhnya akan apa yang Anda lakukan. Ini adalah hasil dari kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi. Seorang pemimpin menyadari bahwa ia tak dapat mengontrol stimulus yang masuk, tetapi ia dapat mengontrol respon yang ia berikan. Dengan demikian ia tidak membiarkan perasaan dan emosinya mengendalikan keputusannya. Pengendalian diri baru dapat terlihat pada situasi yang sulit dan melibatkan emosi. Para ahli menemukan bahwa marah merupakan suasana hati yang paling sulit dikendalikan. Pada saat kita marah, melampiaskan amarah. Bahkan berbeda dengan kesedihan, amarah menimbulkan semangat, bahkan menggairahkan. Karena itu kalau ingin tahu kualitas kepemimpinan Anda, lihatlah apa yang akan Anda lakukan saat marah. Kemampuan melakukan jeda dengan berbagai macam teknik merupakan kunci kepemimpinan Anda. Pengendalian diri juga berarti mampu menunda kenikmatan jangka pendek untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar secara jangka panjang. Orang yang mampu mengendalikan diri tidak akan tergoda untuk makan terlalu banyak, melakukan korupsi, perselingkuhan dan perbuatan apapun yang kelihatannya memberikan kenikmatan secara jangka pendek. Orang ini sadar bahwa kenikmatan jangka pendek yang diperolehnya tak akan sepadan dengan penyesalan yang dideritanya dalam jangka panjang. Ia menjauhi apapun yang disebut dosa. Inilah define dosa: "Memperoleh kenikmatan jangka pendek, tetapi mengorbankan kenikmatan jangka panjang". Goleman menawarkan akan memberikan satu permen, tetapi bagi mereka yang mau menundanya sampai besok ia akan memberikan dua buah permen. Penelitian Goleman kemudian membuktikan bahwa anak-anak yang mampu menunda keinginannya memiliki kecerdasan emosi yang lebih baik. Kemampuan menunda kenikmatan menunjukkan penguasaan diri yang kuat. Pengendalian diri juga ditunjukkan oleh keberanian seseorang untuk membuat komitmen dan melaksanakan komitmen tersebut. Hal-hal besar seringkali berawal dari komitmen-komitmen kecil Stephen Covey mengatakan, "Making and keeping promises to ourselves precede making and keeping promises to others". Karena itu sebelum membuat komitmen untuk orang banyak latihlah diri Anda dengan membuat komitmen-komitmen yang sederhana. Kita bisa memulai dari hal-hal kecil seperti mulai berolahraga setiap hari, mengurangi makanan berkolestrol tinggi dan sebagainya. Membuat komitmen pada diri sendiri jauh lebih sulit dan menantang. Mengapa? Karena kalaupun kita melanggarnya tidak akan ada yang tahu kecuali diri kita sendiri. Tapi pelanggaran komitmen tersebut perlahan-lahan akan menggerogoti kepercayaan diri Anda. Kepemimpinan akan muncul begitu Anda mampu menjalankan komitmen tersebut dan menaklukan diri Anda. Artikel yang dikutip dari buku You are a leader yang ditulis oleh Bapak Arvan Pradiansyah ini tidak memaksa kita untuk menjadi pemimpin, tetapi mengajak kita menyadari bahwa sebenarnya kita memang sedang menjadi pemimpin bukan hanya sebagai pemimpin dalam skala besar melainkan pemimpin dalam skala terkecil, yaitu memimpin diri kita sendiri, kita yang berperan dalam mengarahkan kearah mana kita akan membawa diri kita, memutuskan tindakan apa yang kita ambil, melihat sebuah kejadian dan memilih untuk ikut terpengaruh atau membiarkan diri kita menjadi pengaruh. Dan sekarang, pilihan yang kita pilih bersama adalah menjadi postman dimana tujuannya adalah melanggengkan perusahaan ini serta menjadikannya sebagai bisnis yang tidak hanya membantu masyarakat tapi juga harus menjadi yang terpercaya sehingga tujuan akhirnya adalah umur panjang. Semoga langkah kita semakin diringankan dan semoga keberkahan atas apa yang kita pilih saat ini memberikan dampak yang positif dan besar bagi keberlangsungan perusahaan kita tercinta ini. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment